Rabu, 18 Mei 2011

SEBUAH UNGKAPAN


MYWRITE
HILMAN INDRAWAN

LELAHKU…
Lelah. . Haruskah ku akhiri keletihan dgn diam tak menentu?
Saat langkah terasa lemah, dan tubuh dimandikan keletihan. Saat itulah puncak logika dlm keadaan yg statis. Dan apakah mata hrus brpura-pura memejamkan eksistensinya agar tak melihat knyataan di sekitar?

Hm..rasanya inginku mnjadi pmberontak akn keadaan ini. Ingin brlari ke ruang hampa yg mungkin mberikanku ketenangan. Ada apa ini?
Hh. . Lelahku ini telah melemahkn emosional dan logikaku..
Namun lelah ini sngguh hnyalah sbuah ungkapan , bkanlah sbuah keluhan.. Krna bagiku bila lelah itu kau anggap suatu ulah, mka hidupmu adlah ulahnya. Bila ksedihan kau anggap mslah, mka dirimulah msalahnya..

1 kata tuk brkarya

Hujan meleburkan kelelahan ini.. Kelelahan sulitnya menata kata demi kata. Kata sbgai perantara untukku memulai brtutur kata. Entah mengapa..rasa bgitu sukar tuk brbahasa.. Bahasa yg trsusun mnjdi sbuah estetika. Hm.. Lelah. . . Namun hujan membuatku tak ingin menyerah. Tak ingin kalah karna kata hrus sgera mnjadi sbuah karya. Ya.. Satu kata hrus membantuku tuk memulai brkarya

bata merah yang tak ingin bisu

oleh Hilman Ulul Albab pada 30 April 2011 jam 1:43
malam ini.. ku biarkan tintaku bergoyang, menulis apa yang aku ingin tulis. berfikir apa yang ingin aku fikirkan...
. disaat yang lain merasa rapuh dengan dirinyapadahal hidupnya serba berkecukupan. namun aku selalu bangga dengan kekuranganku... karena dengan kekuranganku aku mampu menjadi bata merah yang melangkapi bangunan yang tinggi..........
seringkali aku terjatuh,, namun tak sempat tubuh menyentuh tanah, apalagi bebatuan yang amat keras. sebelum tubuhku kotor karena keluhannku sendiri aku selalu berusaha untuk menjadi bata merah yang berada di bangunan paling tinggi itu. ya... walaupun ku sadar, aku hanyalah bata merah yang kapanpun  akan rapuh dan terjatuh menyentuh tanah keputusasaan. namun aku harus lebih menyadari bahwa akulah bata merah yang tak ingin hanya terdiam membisu.

catatanku, ungkapanku (pasca ditilang ) PENGEMIS BERSERAGAM

oleh : Hilman Indrawan
Pengemis merupakan "wajah" dari masalah sosial yang dikarenakan rendahnya ekonomi. tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi, tidak seimbang dengan pemenuhannya. sehingga hal ini yang menjadi salah satu faktor adanya pemecahan masalah oleh masyarakat yang tidak lagi notmatif.

            Pengemis di Indonesia, sering kita lihat di jalan-jalan raya, mereka rela berpanas-panasan hanya sekedar mengemis uang yang sedikit. rasa malu sudah tidak lagi dihiraukan, meskipun terkadang banyak orang yang mencibir dan menghinanya. dari kenyataan tersebut, penulis melihat dari ciri-cirinya, ternyata selain pengemis yang berbaju compang-camping, ada pula pengemis yang berpenampilan rapi, tegap, dan berseragam. siapakah pengemis berseragam itu ?

Bukanlah justifikasi yang salah, bila kita menjawab bahwa pengemis berseragam itu adalah oknum polantas. Dengan cirri-ciri yang sama namun berbeda cara, para oknum polantas elah menunjukan “kepengemisannya” dibalik kewibawaan seragam yang mereka gunakan. Mereka bersembunyi di belakang hokum dengan mengatasnamakan undang-undang sebagai penutup dari ‘aksinya’.
Keadilan telah buta ketika rupiah nampak pada mata yang telah buta pula. Kewajiban menegakan keadilan berubah menjadi menyemarakan kebohongan. Sangat ironis, gaji polantas yang tidak sedikit masih saja membuat mereka tidak puas. Masyarakat yang melanggar peraturan menjadi sasaran pendustaan hokum. Semakin sering mereka melakukan hal itu, semakin mereka mempertegas bahwa mereka hanyalah aparat ‘penjilat’, bukan aparat pelindung masyarakat.
Tidakka mereka berfikir tentang kemajuan bangsa ini? Jawabannya sudah jelas, bahwa dengan apa yang mereka lakukan, itu menunjukan tak ada sedikitpun mereka berfikir ke arah kemajuan.

Problematika mengenai KKN memang seolah mustahil untuk dibasmi di negeri yang kaya akan pengemis nepotisme ini. Seperti halnya yang dilakukan oleh para oknum polisi tersebut, mereka menjadi pengemis yang ‘gagah’ dengan kewenangan dan kekuasaanya. Dengan realita diatas, bisa kita simpulkan bahwa justru mereka sendiri sebagai para pengadil yang mesti diadili. Dan dengan adanya masalah tersebut, secara tidak langsung mereka telah menyebarkan ‘budaya’ KKN pada masyarakat, sehingga KKN akan benar-benar menjadi “seni budaya ” pendustaan hokum di Indonesia.

BUKAN '?'

oleh Hilman Ulul Albab pada 30 April 2011 jam 1:29
Dalam ruang tanpa sekat melengking ribuan rasio yang mempermainkan logikaku. Semua seolah samar merasuk dalam benakku. Ku lihat gambar dalam layar kecil, dasi-dasi tergantung pada leher-leher yang menengahi jas hitam. Mereka layaknya anak ayam yang saling berebut cacing. Pandanganku kosong seketika membayangkan wajah bangsa yang hanya tergambar sebuah kegelapan yang terpadamkan oleh anginnya sendiri.

sejenak ku berjalan mencoba meraba jalanan. AKU TERKEJUT... mataku seolah akan melompat dari peredarannya..
ratusan orang yang menamakan kaum intelektual sedang memacu semangatnya.. dengan bangganya mereka mempertahankan almamater dengan kerikil yang diterbangkan berupaya merobek almamater lawan.
hm....alangkah TIDAK lucunya negeri ini

LANGKAH UNTUK SANG AYAH (the story of struggle in sadness)

oleh Hilman Ulul Albab
Oleh : Ibnu Jadid (Hilman Indrawan)

Siang itu, gemuruh suara drum aksi dari eskul marching band mengiringi sepuluh lulusan berprestasi. Ilham, seorang anak sederhana menjadi salah satu diantaranya. Dengan tegapnya ilham bersama teman lainnya melangkah perlahan menuju panggung penghargaan. Iringan marching band dan atraksi dari mayoret membuat mereka tersanjung. Satu persatu nama-nama mereka bergema diantara lebih dari seribu siswa SMP saat itu. Tak sedikit air mata kebanggan menetes dari orang tua atas prestasi anak mereka. Tak ketinggalan pula haru biru dari para siswa larut dalam suasana perpisahan itu.
“kejar terus prestasimu nak, ibu bangga padamu.” Bisik seorang guru pada ilham.
“Terima kasih bu.” Balas ilham menahan haru.
Dilihatnya dari atas panggung, sahabat-sahabat tercinta tersenyum lebar sembari mengangkat kedua jempol tanda rasa bangga. Seketika ia tertunduk, ia menyadari bahwa perpisahan diambang waktu.
Ia turun menghampiri sahabat-sahabatnya, jabat tangan dan peluk hangat menjadi akhir dari acara perpisahan itu.
Setelah acara penutupan selesai, seluruh siswa bergegas pulang. Namun ada yang berbeda pada koridor kelas IX A. Ilham dan teman-teman sekelasnya berkumpul sejenak. Berbagai ucapan selamat dan pertanyaan dilontarkan kepada salah satu lulusan terbaik itu.
“Hai bro, selamat ya, lain kali ajak-ajak aku dong kalau naik panggung” ujar doni dengan ketawanya yang khas.
“iya ham, aku juga tambah kagum ma kamu” seolah tak mau kalah, sisil yang selama tiga tahun menyukai ilham pun ikut berkomentar.
“ha..ha..” dengan serentak teman-temanya mentertawakan sisil yang memang terkenal dengan kecentilannya.
“ah kalian sirik banget sih” sanggah sisil sembari memegangi rambutnya yang panjang.
Suasana kembali hangat seolah tak akan ada perpisahan di hari itu. Ilham sebagai objek pertanyaan terlihat begitu tenang dan berwibawa.
Diakhir perbincangan, gilang salah satu teman terdekat ilham bertanya “ham, nilai kamu kan tinggi, apa kamu akan mendaftar ke SMA favorit?”
Dengan senyumnya yang khas, Ilham menjawab “ tidak lang, aku mau ke pesantren saja”
“maksud kamu?” Gilang terkejut mendengarnya.
“nilai kamu besar ham, ngapain masuk pesantren?” potong Angga yang juga heran mendengarnya.
“teman-teman, pesantren adalah pilihanku sejak lama, bahkan sebelum aku masuk ke SMP pun pesantren telah menjadi pilihan, hanya saja kondisi saat itu membuatku mengurungkan niat” ungkap Ilham menjelaskan alasannya.
“ah kamu ham, mending masuk ke SMA negeri aja, kamu pasti diterima, secara nilaimu kan tinggi” ujar Erik yang juga menyayangkan keputusan Ilham.
“sudahlah, yang mau sekolah kan ilham, seharusnya kita mendukungnya. OK ” ujar Irsan teman sebangku Ilham.
“iya aku setuju, kita harus mendukungnya. Dan aku percaya sama kamu ham” bela Adi menghampiri Ilham.
”makasih teman-teman, doakan saja ya.. semoga aku sukses” ungkap Ilham menatap teman-temannya satu persatu.
Perbincanganpun berakhir, dan mereka saling berpelukan disertai haru yang menyelimuti. Kemudian kosonglah koridor kelas itu seiring dengan berpisahnya mereka.
                                                               *   *
Di rumah, ibu Ros seorang penjahit yang tiada lain adalah ibu kandung ilham, ia terperanjat dari mesin jahit ketika anaknya memanggil-manggil dirinya.
“ibu..ibu..aku bawa sesuatu bu” teriak Ilham memanggil ibunya.
”ada apa nak?, kamu ini membuat ibu kaget saja” Tanya ibu Ros menghampiri anaknya.
“ini bu..” Ilham memperlihatkan piagam yang ia bawa.
Dipegangnya piagam itu oleh ibu ros, air mata melintasi pipinya dan ia tatap dalam-dalam anaknya. Dan dengan nada pelan ia katakan ”ibu…ibu bangga padamu nak”.
 Lagi, kata-kata bangga itu terlontar dari orang yang ia cintai. Dan kini terlontar dari ibu kandungnya sendiri.
Ilham pun menatap balik ibunya dan mereka berpelukan.
Sementara mereka sedang larut dakam haru kebanggaan, pak Harun ayah kandung ilham tengah terbaring lemas karena sakitnya yang semakin parah.  Kemudian dihampirinya pak Harun oleh Ilham lalu ia peluk ayahnya yang sulit untuk berbicara itu.
 Pak harun telah hampir dua tahun menderita penyakit paru-paru. Beberapa kali beliau dirawat di rumah sakit, namun tak kunjung juga membaik. Ilham yang begitu dekat dengan ayahnya, kini hanya dapat menangis melihat keadaan ayahnya.
Dengan kondisi seperti itu, ilham bertekad ingin membanggakan ayahnya dengan prestasi dan cita-cita yang tinggi. Cita-cita mulia, cita-cita yang juga diharapkan oleh pak Harun yaitu menjadi pembaharu di tengah kondisi bangsa.
Keesokan harinya, tanpa menunda-nunda waktu, ilham bergegas mencari pesantren yang menjadi pilihannya. Walaupun ia hanya membawa secuil kertas yang berisikan alamat yang tak ia kenal, ilham tetap mencarinya bersama sepedanya yang ia pinjam dari saudaranya. Dengan penuh semangat ia mengayuh sepeda berkilo-kilo meter jauhnya. Di jalan, ketika perjalanan telah mencapai 6 km, tiba-tiba ban sepeda yang ia tumpangi meletus. Sungguh hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Dilihatnya isi saku yang ia bawa, ternyata ia hanya memiliki uang untuk mendaftar saja. Ia merasa sangat bingung, sejenak ia berfikir, dan akhirnya ia memutuskan untuk menyimpan dulu sepedanya di bengkel dan ia berjalan menuju pesantren.
Setapak demi setapak ia melangkah, ia tahu bahwa perjalanan masih 7 km lagi. Namun semangatnya tak pernah kendur. Terik matahari membuatnya terasa pusing, mengingat ia memang tengah berpuasa sunah. Namun itu bukanlah penghalang baginya.
Hingga akhirnya dari kejauhan ia lihat petunjuk bahwa Pesantren Al-Islam 84 hanya tinggal 500 m lagi. Melihat hal itu , semangatnya semakin terpacu, sehingga ia berlari menuju pesantren itu. Sesampainya di depan  gerbang pesantren, ia bersujud tanda syukur kepada Allah.
Saat itu, jarum jam menunjukan pukul 12:00. Maka ia pun menuju masjid pesantren untuk mendirikan shalat dzuhur. Dilihatnya sntri-santri berseragam rapi dan santriwati berjilbab begitu tertutup. Pemandanngan yang tak pernah ia lihat sebelumnya di sekolah-sekolah umum. Dalam hati ia berkata”subhanallah, aku langsung cinta pada pesantren ini”.
Seusai shalat, sedikit gugup ia alami saat menghadaPke kantor asatidz atau kantor guru bila di sekolahnya dulu. Masuklah ia ke dalam kantor, kemudian pembicaraan pun dimulai. Ilham yang tadi gugup, kini begitu antusias menceritakan tujuannya memilih pesantren dan perjuangannya hingga tiba di pesantren tersebut. Perbincangan terus berlangsung diantara mereka. Ust. Rahman memujinya, begitu pula asatidz lainnya. Namun kemudian ust.rahman berkata ” kami sangat menghargai niat dan tekad anda, namun mohon maaf kami tidak menerima lulusan selain dari tsanawiyah”
Mimik muka Ilham berubah, seolah tak percaya akan perkataan itu, ia menundukan pandangan.
“tapi tenang saja, kamu masih bisa menuntut ilmu di pesantren, namun bukan disini” ujar ust. Rahman menenangkan Ilham yang terlihat lesu.
 “ maksud ustadz? ” Tanya Ilham mengangkat kembali pandangannya.
“ kamu bisa sekolah di Pesantren Al-Islam 67 Benda Tasikmalaya, insyaallah disana menerima lulusan dari SMP. ” Papar ust. Rahman sembari meberikan alamatnya.
“ alhamdulillah..terima kasih banyak ustadz, hampir saja saya putus asa ” Ungkap Ilham yang begitu bersyukur mendengarnya.
Ilham pun menyalami satu persatu asatidz dan berpamitan kepada mereka.
“ assalamualaikum ” salam ilham seiring keluar dari ruangan kantor asatidz.
                                                                       *  *
Sabtu pagi, tepatnya dua hari sepulangnya dari Pesantren Al-Islam 84, Ilham menghancurkan tabungannya. Tabungan yang telah ia kumpulkan selama satu tahun. Kini akan ia gunakan untuk transport menuju pesantren yang berada di kota Tasikmalaya.
Ia berniat untuk berangkat pada sabtu malam. Sengaja ia memilih malam hari, karena ia tidak terbiasa dengan perjalanan siang. Kali ini ia pergi bersama luqman sahabatnya sejak kecil. Sabtu malam, sepulangnya dari masjid setelah mendirikan shalat isya, Ilham berpamitan kepada ibunya dan ia berangkat bersama Luqman.
Disaat lampu bundar berkelipan menyinari kemaksiatan malam dan para muda-mudi menghamburkan waktu memuaskan nafsunya, ilham justru tengah berjuang mencari ridho Allah. Sungguh, sesuatu perbedaan yang begitu mencolok dari kedua keadaan tersebut. Ya, remaja seperti ilham hanyalah minoritas di zaman modern ini.
Malam itu, Ilham dan Luqman mengendarai bus menuju kota Tasikmalaya, kota sejuta santri. Mereka begitu bersyukur dapat berangkat pada malam itu.
Malam yang semakin senyap, membuat mereka terlelap. Puluhan kilometer telah mereka lalui, dan sampailah mereka di Kabupaten Tasikmalaya. Namun mereka tak juga terbangun dari tidurnya. Sampai pada akhirnya seseorang bertopi hitam membangunkannya. Mereka bangun terperanjat karena kaget dan khawatir bila pesantren yang ia mereka tuju telah terlewat.
Dengan kantuk yang masih melekat, mereka hampiri supir bus dan bertanya kepadanya “ Pak, kalau Kecamatan Benda masih jauh tidak? ” Tanya Ilham yang penuh dengan cemas.
“maaf dek, tempat itu telah terlewat belasan kilometer tadi ” jawab pak supir.
“ apa? Terus bagaimana dengan kami pak? ” sahut Luqman yang begitu kaget mendengarnya.
“kalian turun saja disini, nanti tanyakan pada warga daerah sini” ujar Pak supir sembari memberhentikan kemudinya.
Akhirnya mereka pun diturunkan tepat di pangkalan ojeg depan mesjid yang telah terkunci. Mereka bengong saling pandang. Tak sepatah kata pun terucap. Kedua mata mereka seolah menangkap udara kosong. Seorang pria berjaket kulit menghampiri mereka. “ Dari mana dan mau kemana kalian? ” Tanya pria itu dengan ramah.
 “ Kami dari Bandung, dan akan ke Benda pak ” jawab Luqman.
 “oh mau ke Benda, saya bisa antar kalian kesana, ongkosnya Cuma 50.000 aja ” tawar pria yang ternyata tukang ojeg itu.
“50.000?” sahut Luqman yang kaget mendengarnya.
“ya sudah, kalau ga mau, tapi saya tidak menjamin kalian tidak akan tersasar di sini ”
“mohon maaf pak, tapi sebenarnya Kecamatan Benda itu ada dimana?”
“di Kabupaten Tasikmalaya belasan kilometer di belakang sana.”
“kabupaten ? tapi yang kami cari itu di kotamadya pak”
“oh, kecamtan Benda memang ada dua, dan kalau kalian cari yang di kotamadya, itu lebih jauh lagi. Karena sekarang ini kita berada di kabupatennya” papar tukang ojeg itu.
“baiklah pak, kami akan berjalan saja” ujar Ilham yang tak ragu memutuskan untuk berjalan kaki.
“ apa? Kota tasik itu masih jauh dek ” sahut tukang ojeg yang terheran-heran mendengar perkataan ilham.
“tidak apa pak, kami harus berjuang meskipun jauh”
“luar biasa, ya sudah hati-hati di jalan ya..”
“iya pak, terima kasih’ ucap Ilham dan Luqman berlalu meninggalkan pangkalan ojeg itu.
Gelap malam tu telah manunjukan pukul 00:00, mereka berjalan menelusuri jalanan. Lelah dan kantuk mereka rasakan. Belasan kilometer sudah mereka lalui, dan sampailah mereka di perbatasan antara Kabupaten dan Kotamadya Tasik. Sejenak mereka beristirahat, dilihatnya oleh mereka terdapat warung yang masih buka. Kemudian mereka hampiri warung itu. Namun tak ada satu pun orang  yang menjaga warung itu. Padahal Luqman hendak membeli obat karena sakit maghnya kambuh dan kakinya berdarah karena lecet. Ilham yang tak tega melihat keadaan sahabatnya, kemudian menggendong Luqman. Perjalanan kembali dilanjutkan. Asma allah terus Ilham lantunkan sembari menahan beratnya beban perjalanan karena menggendong sahabatnya. “ langkah ini untuk ayahku…langkah ini untuk ayahku…” berulang-ulang ia katakan kata-kata itu didalam hati. Akhirnya di ujung jalan, ia lihat bangunan kokoh berwarna hijau bertuliskan “ Pesantren Al-Islam 67 Benda Tasikmalaya”.
Betapa bahagianya Ilham ketika pesantren yang ia cari telah tampak di depan mata. Adzan shubuh menjadi akhir dari pencarian mereka. Namun mereka tak bisa langsung memasuki pesantren karena gerbangnya yang masih terkunci. Mereka pun shalat di masjid depan pesantren. Dzikir terucap dari bibir mereka, rasa syukur telah menghapus kelelahan yang ada. Ilham tak henti bersyukur dan mendoakan ayahnya yang kini tengah terbaring lemas di rumahnya. Namun tiba-tiba saja nada handphone milik luqman menjerit tanda sms dari bibi Ilham.
“ innalillahi wainnailaihi roji’un, semoga allah memberikan kesabaran terhadapmu ham. Ayahmu meninggal dunia. Ayahmu berpesan kalau kamu mesti melanjutkan terus langkah perjuanganmu.”
Pandangannya kosong, seolah tak percaya, pecahlah tangisan itu dari matanya. Tubuhnya roboh pada penjuru masjid. Ia benar-benar hancur melebur bersama kesedihannya. Ia peluk luqman dan dengan terbata-bata ia berkata “ sahabat, kau tahu mengapa aku rela berjuang menuju pesanntren ini? Semua itu untuk ayahku, langkah-langkah ini untuk kebanggaan ayahku. Tapi kini ia telah tiada, ia telah pergi meninggalkanku.”
Luqman mencoba terus menenagkannya, namun Ilham telah benar-benar hanyut dalam kesedihan. Dan akhirnya mereka pun kembali ke Bandung setelah mengunjungi pesantren dengan waktu yang benar-benar sedikit.
Meski ayahnya telah meninggal, namun langkah perjuangan ilham tak lantas terkubur oleh rasa putus asa. Semenjak kejadian itu, ilham selalu menjadikan pesan terakhir dari ayahnya sebagai motivasi. Dan kini ia terus melangkahkan perjuangan demi satu makna yang bernama mimpi, dan satu tujuan yaitu sukses.
                                                 *  *

HARUSKAH TERKUBUR SEMUA MIMPIKU?

oleh Hilman Ulul Albab pada 19 Mei 2011 jam 10:25
Perubahan Anda sudah disimpan.
akankah mimpiku terkubur karna suatu nilai bernama 'uang' ?
mengapa keluhan kini keluar bertub-tubi dari mulutku, mulut yang sbenarnya tak ingin mengeluh...

MEREKA BUKANLAH AKU. ya... aku adalah aku,, dan mereka tak usah ku beritahu siapa aku. namun biarkan mereka tahu sendiri siapa aku.

meski begitu, ternyata mereka tidak akan pernah mungkin tahu bila aku hanya membisu menutup eksistensiku.
hilman indrawan, itulah nama lengkapku. aku seorang mahasiswa yang penuh dengan mimpi. bahkan status mahasiswa itupun terlahir dari sebuah makna bernama mimpi. mimpi yang sebenarnya diragukan banyak orang,terutama saudaraku sendiri. namun satu kekuatan bernama TEKAD menendangku untuk terus berlari menggapai mimpi itu. ya... setidaknya sudah hampir 10 bulan (mei 2011) kartu tanda mahasiswa atas namaku telah ku kantongi.namun itu hanya status yang menutupi keluhan-keluhanku yang nyata. kini langkahku mengejar sinar kebanggan seolah akan terhenti. haruskah aku memejamkan mata dan tertidur seolah tak ingin tahu dan lupa akan cita yang telah tertata ini?
disaat harapan itu semakin menggebu, justru keadaan memaksaku untuk melemah. ibu.. dialah orang kini sangat ku cintai dia seorang wanita yang kuat. tanpa seorang suami ia korbankan dirinya dmi mas depanku. sungguh air mata ini tak mampu terbendung ketika aku harus melihat ibuku masih saja bergelut dengan mesin jahitnya hingga larut malam,dan tertidur ketika dini hari dan kembali terbangun shalaht malam untukku. ya.. hanya demi anaknya. bahkan tak jarang ia mancari pinjaman hanya untuk memberikan satu piring nasi untukku. hm....





Senin, 20 Desember 2010

Ketika Shalat Berjamaah Menjadi Solusi

Mahasiswa muslim merupakan calon cendikiawan muslim di masa yang akan datang. Peranannya dalam kemajuan islam sangat dibutuhkan. Namun, apakah predikat calon cendikiawan muslim itu selaras dengan perilakunya ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu kita perhatikan fakta yang ada pada saat ini.Fakta yang berkembang pada saat ini di perguruan tinggi islam seperti UIN, STAIN, PTAIS ternyata memiliki banyak kejanggalan pada mahasiswanya. Yakni adanya peran sebagai mahasiswa muslim yang kontradiktif dengan aplikasinya. Perilaku mahasiswa yang tidak islami justru menjadi predikat baru dari masyarakat. Bahkan tidak sedikit yang meragukan dan mencemoohnya.
Keadaan demikian tentu saja mesti dihilangkan bila tak ingin islam manjadi bulan-bulanan yahudi. Upaya untuk meminimalisir hal itu dibutuhkan kesadaran dari berbagai pihak. Kesadaran dalam meningkatkan perilaku mahasiswa menjadi lebih baik. Berbicara tentang kebaikan, tentu saja tidak terlepas dari peran agama. Tidak dipungkiri bahwa agama selalu menjadi solusi terbaik bagi masalah apapun.
Penerapan spiritual terhadap diri seseorang selalu manjadi  solusi alternatif ketika pendekatan logika dan emosional tak berpengaruh. Salah satu ritual yang memiliki keutamaan besar adalah shalat berjamaah. Shalat berjamaah memiliki keutamaan dua puluh derajat dari shalat sendiri. Kemudian adanya ketaatan terhadap imam yang memimpin shalat, jalinan ukhuwah dan yang terpenting adanya kekuatan jamaah yang bersama-sama bersujud kepada Allah S.w.t.
Dengan beberapa keutamaan shalat berjamaah tersebut, aplikasi yang dihasilkan akan menemukan perubahan dalam diri. Karena dengan diangkatnya derajat seseorang oleh Allah, maka telah terjadinya pembentukan dan peningkatan keimanan dan akhlak seseorang. Begitu pula dengan mahasiswa yang memiliki perilaku buruk. Mereka akan mengalami perubahan ketika shalat berjamaah telah dianggap sebagai sesuatu yang urgen dan dibutuhkan.
Sebuah solusi yang efektif bila suatu perguruan tinggi islam menerapkan kedisiplinan untuk selalu shalat berjamaah kepada mahasiswanya. Karena diakui atau tidak, bahwa masih banyak mahasiswa yang melalaikan hal ini. Bahkan melalaikan waku shalat. keberanian kampus menerapkan kedisiplinan shalat berjamaah memang jarang kita temukan. Anggapan mahasiswa telah dewasa dan tidak perlu banyak aturan baku memang tidak disalahkan. Namun sangat dibenarkan ketika kampus bersikap tegas dalam hal tersebut.
Mahasiswa muslim yang mejadi harapan ditengah kebobrokan dan kesulitan bangsa, harus dijadikan perhatian khusus bagi mahasiswa itu sendiri. Peran mahasiswa sebagai agen perubahan mesti dibarengi dengan perubahan pada diri pula. Dan dalam hal ini moral yang menjadi prioritas pembenahan. Karena hanya dengan moral lah perubahan mampu direalisasikan. Maka spiritual menjadi solusi pembenahan moral. itu Dan ibadah shalat berjamaah menjadi salah satu ibadah yang hadir sebagai solusinya. Wallahu A’lam Bishowwab


Rabu, 17 November 2010

Langkah untuk sang Ayah

Oleh : Ibnu Jadid (Hilman Indrawan)

Siang itu, gemuruh suara drum aksi dari eskul marching band mengiringi sepuluh lulusan berprestasi. Ilham, seorang anak sederhana menjadi salah satu diantaranya. Dengan tegapnya ilham bersama teman lainnya melangkah perlahan menuju panggung penghargaan. Iringan marching band dan atraksi dari mayoret membuat mereka tersanjung. Satu persatu nama-nama mereka bergema diantara lebih dari seribu siswa SMP saat itu. Tak sedikit air mata kebanggan menetes dari orang tua atas prestasi anak mereka. Tak ketinggalan pula haru biru dari para siswa larut dalam suasana perpisahan itu.
“kejar terus prestasimu nak, ibu bangga padamu.” Bisik seorang guru pada ilham.
“Terima kasih bu.” Balas ilham menahan haru.
Dilihatnya dari atas panggung, sahabat-sahabat tercinta tersenyum lebar sembari mengangkat kedua jempol tanda rasa bangga. Seketika ia tertunduk, ia menyadari bahwa perpisahan diambang waktu.
Ia turun menghampiri sahabat-sahabatnya, jabat tangan dan peluk hangat menjadi akhir dari acara perpisahan itu.
Setelah acara penutupan selesai, seluruh siswa bergegas pulang. Namun ada yang berbeda pada koridor kelas IX A. Ilham dan teman-teman sekelasnya berkumpul sejenak. Berbagai ucapan selamat dan pertanyaan dilontarkan kepada salah satu lulusan terbaik itu.
“Hai bro, selamat ya, lain kali ajak-ajak aku dong kalau naik panggung” ujar doni dengan ketawanya yang khas.
“iya ham, aku juga tambah kagum ma kamu” seolah tak mau kalah, sisil yang selama tiga tahun menyukai ilham pun ikut berkomentar.
“ha..ha..” dengan serentak teman-temanya mentertawakan sisil yang memang terkenal dengan kecentilannya.
“ah kalian sirik banget sih” sanggah sisil sembari memegangi rambutnya yang panjang.
Suasana kembali hangat seolah tak akan ada perpisahan di hari itu. Ilham sebagai objek pertanyaan terlihat begitu tenang dan berwibawa.
Diakhir perbincangan, gilang salah satu teman terdekat ilham bertanya “ham, nilai kamu kan tinggi, apa kamu akan mendaftar ke SMA favorit?”
Dengan senyumnya yang khas, Ilham menjawab “ tidak lang, aku mau ke pesantren saja”
“maksud kamu?” Gilang terkejut mendengarnya.
“nilai kamu besar ham, ngapain masuk pesantren?” potong Angga yang juga heran mendengarnya.
“teman-teman, pesantren adalah pilihanku sejak lama, bahkan sebelum aku masuk ke SMP pun pesantren telah menjadi pilihan, hanya saja kondisi saat itu membuatku mengurungkan niat” ungkap Ilham menjelaskan alasannya.
“ah kamu ham, mending masuk ke SMA negeri aja, kamu pasti diterima, secara nilaimu kan tinggi” ujar Erik yang juga menyayangkan keputusan Ilham.
“sudahlah, yang mau sekolah kan ilham, seharusnya kita mendukungnya. OK ” ujar Irsan teman sebangku Ilham.
“iya aku setuju, kita harus mendukungnya. Dan aku percaya sama kamu ham” bela Adi menghampiri Ilham.
”makasih teman-teman, doakan saja ya.. semoga aku sukses” ungkap Ilham menatap teman-temannya satu persatu.
Perbincanganpun berakhir, dan mereka saling berpelukan disertai haru yang menyelimuti. Kemudian kosonglah koridor kelas itu seiring dengan berpisahnya mereka.
                                                               *   *
Di rumah, ibu Ros seorang penjahit yang tiada lain adalah ibu kandung ilham, ia terperanjat dari mesin jahit ketika anaknya memanggil-manggil dirinya.
“ibu..ibu..aku bawa sesuatu bu” teriak Ilham memanggil ibunya.
”ada apa nak?, kamu ini membuat ibu kaget saja” Tanya ibu Ros menghampiri anaknya.
“ini bu..” Ilham memperlihatkan piagam yang ia bawa.
Dipegangnya piagam itu oleh ibu ros, air mata melintasi pipinya dan ia tatap dalam-dalam anaknya. Dan dengan nada pelan ia katakan ”ibu…ibu bangga padamu nak”.
 Lagi, kata-kata bangga itu terlontar dari orang yang ia cintai. Dan kini terlontar dari ibu kandungnya sendiri.
Ilham pun menatap balik ibunya dan mereka berpelukan.
Sementara mereka sedang larut dakam haru kebanggaan, pak Harun ayah kandung ilham tengah terbaring lemas karena sakitnya yang semakin parah.  Kemudian dihampirinya pak Harun oleh Ilham lalu ia peluk ayahnya yang sulit untuk berbicara itu.
 Pak harun telah hampir dua tahun menderita penyakit paru-paru. Beberapa kali beliau dirawat di rumah sakit, namun tak kunjung juga membaik. Ilham yang begitu dekat dengan ayahnya, kini hanya dapat menangis melihat keadaan ayahnya.
Dengan kondisi seperti itu, ilham bertekad ingin membanggakan ayahnya dengan prestasi dan cita-cita yang tinggi. Cita-cita mulia, cita-cita yang juga diharapkan oleh pak Harun yaitu menjadi pembaharu di tengah kondisi bangsa.
Keesokan harinya, tanpa menunda-nunda waktu, ilham bergegas mencari pesantren yang menjadi pilihannya. Walaupun ia hanya membawa secuil kertas yang berisikan alamat yang tak ia kenal, ilham tetap mencarinya bersama sepedanya yang ia pinjam dari saudaranya. Dengan penuh semangat ia mengayuh sepeda berkilo-kilo meter jauhnya. Di jalan, ketika perjalanan telah mencapai 6 km, tiba-tiba ban sepeda yang ia tumpangi meletus. Sungguh hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Dilihatnya isi saku yang ia bawa, ternyata ia hanya memiliki uang untuk mendaftar saja. Ia merasa sangat bingung, sejenak ia berfikir, dan akhirnya ia memutuskan untuk menyimpan dulu sepedanya di bengkel dan ia berjalan menuju pesantren.
Setapak demi setapak ia melangkah, ia tahu bahwa perjalanan masih 7 km lagi. Namun semangatnya tak pernah kendur. Terik matahari membuatnya terasa pusing, mengingat ia memang tengah berpuasa sunah. Namun itu bukanlah penghalang baginya.
Hingga akhirnya dari kejauhan ia lihat petunjuk bahwa Pesantren Al-Islam 84 hanya tinggal 500 m lagi. Melihat hal itu , semangatnya semakin terpacu, sehingga ia berlari menuju pesantren itu. Sesampainya di depan  gerbang pesantren, ia bersujud tanda syukur kepada Allah.
Saat itu, jarum jam menunjukan pukul 12:00. Maka ia pun menuju masjid pesantren untuk mendirikan shalat dzuhur. Dilihatnya sntri-santri berseragam rapi dan santriwati berjilbab begitu tertutup. Pemandanngan yang tak pernah ia lihat sebelumnya di sekolah-sekolah umum. Dalam hati ia berkata”subhanallah, aku langsung cinta pada pesantren ini”.
Seusai shalat, sedikit gugup ia alami saat menghadaPke kantor asatidz atau kantor guru bila di sekolahnya dulu. Masuklah ia ke dalam kantor, kemudian pembicaraan pun dimulai. Ilham yang tadi gugup, kini begitu antusias menceritakan tujuannya memilih pesantren dan perjuangannya hingga tiba di pesantren tersebut. Perbincangan terus berlangsung diantara mereka. Ust. Rahman memujinya, begitu pula asatidz lainnya. Namun kemudian ust.rahman berkata ” kami sangat menghargai niat dan tekad anda, namun mohon maaf kami tidak menerima lulusan selain dari tsanawiyah”
Mimik muka Ilham berubah, seolah tak percaya akan perkataan itu, ia menundukan pandangan.
“tapi tenang saja, kamu masih bisa menuntut ilmu di pesantren, namun bukan disini” ujar ust. Rahman menenangkan Ilham yang terlihat lesu.
 “ maksud ustadz? ” Tanya Ilham mengangkat kembali pandangannya.
“ kamu bisa sekolah di Pesantren Al-Islam 67 Benda Tasikmalaya, insyaallah disana menerima lulusan dari SMP. ” Papar ust. Rahman sembari meberikan alamatnya.
“ alhamdulillah..terima kasih banyak ustadz, hampir saja saya putus asa ” Ungkap Ilham yang begitu bersyukur mendengarnya.
Ilham pun menyalami satu persatu asatidz dan berpamitan kepada mereka.
“ assalamualaikum ” salam ilham seiring keluar dari ruangan kantor asatidz.
                                                                       *  *
Sabtu pagi, tepatnya dua hari sepulangnya dari Pesantren Al-Islam 84, Ilham menghancurkan tabungannya. Tabungan yang telah ia kumpulkan selama satu tahun. Kini akan ia gunakan untuk transport menuju pesantren yang berada di kota Tasikmalaya.
Ia berniat untuk berangkat pada sabtu malam. Sengaja ia memilih malam hari, karena ia tidak terbiasa dengan perjalanan siang. Kali ini ia pergi bersama luqman sahabatnya sejak kecil. Sabtu malam, sepulangnya dari masjid setelah mendirikan shalat isya, Ilham berpamitan kepada ibunya dan ia berangkat bersama Luqman.
Disaat lampu bundar berkelipan menyinari kemaksiatan malam dan para muda-mudi menghamburkan waktu memuaskan nafsunya, ilham justru tengah berjuang mencari ridho Allah. Sungguh, sesuatu perbedaan yang begitu mencolok dari kedua keadaan tersebut. Ya, remaja seperti ilham hanyalah minoritas di zaman modern ini.
Malam itu, Ilham dan Luqman mengendarai bus menuju kota Tasikmalaya, kota sejuta santri. Mereka begitu bersyukur dapat berangkat pada malam itu.
Malam yang semakin senyap, membuat mereka terlelap. Puluhan kilometer telah mereka lalui, dan sampailah mereka di Kabupaten Tasikmalaya. Namun mereka tak juga terbangun dari tidurnya. Sampai pada akhirnya seseorang bertopi hitam membangunkannya. Mereka bangun terperanjat karena kaget dan khawatir bila pesantren yang ia mereka tuju telah terlewat.
Dengan kantuk yang masih melekat, mereka hampiri supir bus dan bertanya kepadanya “ Pak, kalau Kecamatan Benda masih jauh tidak? ” Tanya Ilham yang penuh dengan cemas.
“maaf dek, tempat itu telah terlewat belasan kilometer tadi ” jawab pak supir.
“ apa? Terus bagaimana dengan kami pak? ” sahut Luqman yang begitu kaget mendengarnya.
“kalian turun saja disini, nanti tanyakan pada warga daerah sini” ujar Pak supir sembari memberhentikan kemudinya.
Akhirnya mereka pun diturunkan tepat di pangkalan ojeg depan mesjid yang telah terkunci. Mereka bengong saling pandang. Tak sepatah kata pun terucap. Kedua mata mereka seolah menangkap udara kosong. Seorang pria berjaket kulit menghampiri mereka. “ Dari mana dan mau kemana kalian? ” Tanya pria itu dengan ramah.
 “ Kami dari Bandung, dan akan ke Benda pak ” jawab Luqman.
 “oh mau ke Benda, saya bisa antar kalian kesana, ongkosnya Cuma 50.000 aja ” tawar pria yang ternyata tukang ojeg itu.
“50.000?” sahut Luqman yang kaget mendengarnya.
“ya sudah, kalau ga mau, tapi saya tidak menjamin kalian tidak akan tersasar di sini ”
“mohon maaf pak, tapi sebenarnya Kecamatan Benda itu ada dimana?”
“di Kabupaten Tasikmalaya belasan kilometer di belakang sana.”
“kabupaten ? tapi yang kami cari itu di kotamadya pak”
“oh, kecamtan Benda memang ada dua, dan kalau kalian cari yang di kotamadya, itu lebih jauh lagi. Karena sekarang ini kita berada di kabupatennya” papar tukang ojeg itu.
“baiklah pak, kami akan berjalan saja” ujar Ilham yang tak ragu memutuskan untuk berjalan kaki.
“ apa? Kota tasik itu masih jauh dek ” sahut tukang ojeg yang terheran-heran mendengar perkataan ilham.
“tidak apa pak, kami harus berjuang meskipun jauh”
“luar biasa, ya sudah hati-hati di jalan ya..”
“iya pak, terima kasih’ ucap Ilham dan Luqman berlalu meninggalkan pangkalan ojeg itu.
Gelap malam tu telah manunjukan pukul 00:00, mereka berjalan menelusuri jalanan. Lelah dan kantuk mereka rasakan. Belasan kilometer sudah mereka lalui, dan sampailah mereka di perbatasan antara Kabupaten dan Kotamadya Tasik. Sejenak mereka beristirahat, dilihatnya oleh mereka terdapat warung yang masih buka. Kemudian mereka hampiri warung itu. Namun tak ada satu pun orang  yang menjaga warung itu. Padahal Luqman hendak membeli obat karena sakit maghnya kambuh dan kakinya berdarah karena lecet. Ilham yang tak tega melihat keadaan sahabatnya, kemudian menggendong Luqman. Perjalanan kembali dilanjutkan. Asma allah terus Ilham lantunkan sembari menahan beratnya beban perjalanan karena menggendong sahabatnya. “ langkah ini untuk ayahku…langkah ini untuk ayahku…” berulang-ulang ia katakan kata-kata itu didalam hati. Akhirnya di ujung jalan, ia lihat bangunan kokoh berwarna hijau bertuliskan “ Pesantren Al-Islam 67 Benda Tasikmalaya”.
Betapa bahagianya Ilham ketika pesantren yang ia cari telah tampak di depan mata. Adzan shubuh menjadi akhir dari pencarian mereka. Namun mereka tak bisa langsung memasuki pesantren karena gerbangnya yang masih terkunci. Mereka pun shalat di masjid depan pesantren. Dzikir terucap dari bibir mereka, rasa syukur telah menghapus kelelahan yang ada. Ilham tak henti bersyukur dan mendoakan ayahnya yang kini tengah terbaring lemas di rumahnya. Namun tiba-tiba saja nada handphone milik luqman menjerit tanda sms dari bibi Ilham.
“ innalillahi wainnailaihi roji’un, semoga allah memberikan kesabaran terhadapmu ham. Ayahmu meninggal dunia. Ayahmu berpesan kalau kamu mesti melanjutkan terus langkah perjuanganmu.”
Pandangannya kosong, seolah tak percaya, pecahlah tangisan itu dari matanya. Tubuhnya roboh pada penjuru masjid. Ia benar-benar hancur melebur bersama kesedihannya. Ia peluk luqman dan dengan terbata-bata ia berkata “ sahabat, kau tahu mengapa aku rela berjuang menuju pesanntren ini? Semua itu untuk ayahku, langkah-langkah ini untuk kebanggaan ayahku. Tapi kini ia telah tiada, ia telah pergi meninggalkanku.”
Luqman mencoba terus menenagkannya, namun Ilham telah benar-benar hanyut dalam kesedihan. Dan akhirnya mereka pun kembali ke Bandung setelah mengunjungi pesantren dengan waktu yang benar-benar sedikit.
Meski ayahnya telah meninggal, namun langkah perjuangan ilham tak lantas terkubur oleh rasa putus asa. Semenjak kejadian itu, ilham selalu menjadikan pesan terakhir dari ayahnya sebagai motivasi. Dan kini ia terus melangkahkan perjuangan demi satu makna yang bernama mimpi, dan satu tujuan yaitu sukses.
                                                 *  *

  

Selasa, 02 November 2010

RESENSI BUKU METODOLOGI STUDI ISLAM

OLEH : H. Indrawan CS.Pd.I

Judul                : Metodologi Studi Islam
Penulis              : Prof. Dr. Supiana, M.Ag. Pepen Supendi, S.Pd.I
Penerbit            : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan    
Terbit               : Cetakan pertama, Agustus 2010
Halaman           : iii + 227 halaman

Metodologi studi islam adalah salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa UIN, IAIN, STAIN, dan PTS yang menyelenggarakan pendidikan ilmu-ilmu agama islam di lingkungan kementrian Agama RI. Metodologi studi islam berhubungan erat dengan mata kuliah yang lain seperti mata kuliah ulumul qur’an, tafsir, ulumul hadits, hadits, tauhid, fiqih,akhlaq, tasawuf, filsafat islam dan pembaharuan pemikiran islam.
Dengan urgensi mempelajari Metodologi studi islam tersebut, maka Prof. Dr. Supiana M.Ag dan Pepen Supendi S.Pd.I menyusun buku MSI sebagai jawaban atas permasalahan-permasalahan yang muncul pada era kontemporer ini.
Buku ini memiliki 227 halaman dengan tersusun oleh sebelas bab, diantaranya dalam pembahasan pertama, dijelaskan tentang pentingnya metodologi studi islam yang bermanfaat dalam mengubah pemahaman masyarakat muslim Indonesia dari pemahaman yang sempit menjadi luas. kemudian dijelaskan pula berbagai pengertian agama baik yang dikemukakan oleh pakar dari Indonesia maupun pakar dari barat.
Dalam pembahasan kedua, menjelaskan tentang dikotomi ilmu dan sejarah munculnya, pembidangan ilmu agama islam baik melalui ketetapan departemen agama maupun hasil rekomendasi dari para pakar. Kemudian membahas pula karakteristik ajaran islam yang sebenarnya dengan memaparkan beberapa bidang-bidang yang menjadi karakter ajaran islam itu sendiri.     Pembahasan selanjutnya berkenaan dengan pendekatan-pendekatan dan metode dalam studi islam yang memaparkan corak pemikiran-pemikiran keagamaan islam, diantaranya pemikiran keagamaan fundamentalis, modernis, misianis, dan tradisionalis, dan tuntutan untuk memhami agama sesuai dengan zamannya yang memunculkan pendekatan-pendekatan dalam memahami agama seperti pendekatan teologi, pendekatan histories, sosiologis, antropologis, filosofis dan sebagainya.
Bab ini pun menjelaskan beberapa metode dalam mengkaji agama. metode-metode yang dipandang lazim digunakan penelitian pemikiran keagamaan tersebut. Antara lain, metode fiologi, deskriptif, perbandingan hermeneutika, dan fenomologi, mistikal, dan filsafat. Metode-metode tersebut memiliki fungsi yang berbeda dalam pengkajiannya. Selanjutnya pada bab V dibahas tentang sumber ajaran islam, yaitu al-qur’an yang meliputi pembahasan fungsi Al-qur’an,  ilmu-ilmu Al-Qur’an, kaidah-kaidah tafsir, ketentuan-ketentuan dalam penafsiran. Dalam bab ini penulis memberi informasi kepada pembaca tentang kajian dalam mempelajari Al-Qur’an secara umum setelah mempelajari studi Al-Qur’an sebagai sumber ajaran islam. Maka dalam bab selanjutnya dibahas mengenai sumber ajaran islam yang kedua yaitu al-hadits, bab ini membahas hadits dari pengertian, fungsi, hingga jenis-jenis hadits.
Kemudian dipaparkan metode studi hadits yang meliputi tujuan penelitian, langkah-langkah penelitian hadits, sejarah singkat kodifikasi dan metode takhrij hadits. Setelah pembahasan alquran dan hadits, bab selanjutnya juga memiliki korelasi pembahasan, yakni pembahasan tentang ijtihad sebagai sumber dan metode studi islam, isi dalam pembahasan tersebut dibagi kepada dua bagian, yaitu ijtihad sebagai sumber ajaran dan sebagai sumber metode studi islam. Bab selanjutnya membahas metode mempelajari pemahamaman tentang islam yang meliputi berbagai kajian metode. Bab ini memiliki kegunaan dalam menganalisa khazanah intelektual muslim terutama dalam kajian ilmunya.
Dari beberapa pembahasan pada bab sebelumnya tentu saja tidak terlepas dari sejarah kebudayaan islam, maka dalam bab IX dibahas sejarah kebudayaan islam yang dibagi atas masa Nabi dan Khulafaurrasidin, masa dinasti umayyah dan abbasiyah, dan masa tiga kerajaan besar. Kemudian pada penghujung bab dipaparkan tentang kajian keislaman yang dipahami dari outsider dan insider, dan isu isu kontemporer dalam Islamic studies. Keutamaan dalam bab ini adalah pembaca akan memahami peta dan posisi islam dalam perspektif orang yang berbeda.
Adapun kelebihan dalam buku ini, diantaranya struktural pembahasan yang sistematis-korelasi, sehingga memudahkan pembaca dalam memahami pembahasan secara korelatif pula. Kemudian buku ini memberi bekal terhadap pembaca sebagai pengantar studi agar memiliki pemahaman terhadap islam secara komprehesif dari berbagai aspeknya, mengetahui beberapa metode dan pendekatan dalam mempelajari islam, dan mengupayakan pembaca agar memiliki gambaran umum mengenai islam secara efektif dan efisien dalam waktu yang relatif singkat.    
Disamping memiliki kelebihan, buku ini pun tidak terlepas dari kekurangannya, yaitu memiliki beberapa pembahasan yang kurang mudah untuk terfahami bagi pemula khususnya, kemudian editing belum sempurna, dan glosarium yang kurang lengkap sehingga masih banyak bahasa yang tidak terdefinisi.
Buku ini sangat bermanfaat bagi para calon cendikiawan muslim sebagai tahap awal dalam memahami islam lebih dalam lagi.

Catatan peresensi (kritik)
Dalam bab II, halaman 4, dituliskan “…kekeliruan itu terjadi karena pengajian tadi dan kurikulum pendidikan hanya menekankan pada aspek ibadah, tauhid, al-qur’an dan as-sunnah… ”. Dalam hal tersebut, mohon diperhatikan kembali masalah perbahasaan yang memungkinkan terjadinya kesalahan penafsiran bagi pembaca. Bila dikaitkan dengan kalimat sebelumnya tentang umat islam yang banyak beranggapan islam bersifat sempit, kemudian salah satunya adalah ‘kekeliruan karena hanya mempelajari qur’an dan sunnah’, tentu saja itu keliru, karena meskipun hanya mempelajari dua sumber tersebut agama tidak akan sempit. Karena dengan mempelajarinya dengan catatan didasarkan dengan ilmu, al-qur’an as-sunnah akan melahirkan berbagai aspek yang luas, dan mampu menjawab tantangan zaman. 


Minggu, 24 Oktober 2010

nitip hula IKAPPIL


PROFIL


NAMA                              : IKAPPIL (ikatan alumni pesantern persatuan islam lebakwangi)
SEBUTAN ANGGOTA : PILOVER’S
BERDIRI                         : 16 juli 2010
ALAMAT SEKR.           : Gd.Pesantren Persis Lebakwangi Rt 02/02 Ds. Lebakwangi kec. 
                                          Arjasari kab. Bandung
VISI                                  : Menjadikan IKAPPIL sebagai ikatan alumni yang kembali   
                                           terikat Dengan pesantren dan siap untuk mengabdi.
MISI                                : Memberikan kontribusi dalam mendukung tujuan PPI
                             Lebakwangi dalam menciptakan generasi qur’ani yang kreatif dan
      kompetitif.
TUJUAN PERSONAL  :Mencari jati diri sebagai muslim sejati dengan jihad fi sabilillah.
MOTTO/SLOGAN        : “Be a the true moslem”











PROGRAM
TARBIYAH
-         Mengadakan forum bagi anggota IKAPPIL yaitu forum diskusi dan sharing yang bekerjasama dengan narasumber dari eksternal anggota.
-         Mengadakan pembinaan bagi anggota berupa training, dan debating club yang akan bekerjasama dengan pemateri dan pengisi acara dari eksternal anggota
-         Mendukung eskul eskul kependidikan yang terdapat dalam POTASKI dengan ikut serta dalam pembinaan.
SOSIAL
-         Membuat komunitas sosial yaitu APAL(Aksi Peduli Alumni Lebakwangi), yang akan bertugas dalam bidang kesosialan baik internal maupun eksternal.
-         Kerjasama kesosialan eksternal dengan komunitas lain, seperti Palang Merah, Santri Husada dll.
KADERISASI
-         Mengadakan pengkaderan atau pembinaan bagi santri dalam mengembangkan potensi , talent dan skill yang terbentuk dalam POTASKI(potensi, talent, n skill).
PUBLIKASI
-         Mengkomunikasikan dan menginformasikan hal-hal yang perlu dikabarkan kepada seluruh anggota.
-         Mendokumentasikan kegiatan melalui media.

Sabtu, 16 Oktober 2010

PENGEMIS BERSERAGAM

oleh : Hilman Indrawan
Pengemis merupakan "wajah" dari masalah sosial yang dikarenakan rendahnya ekonomi. tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi, tidak seimbang dengan pemenuhannya. sehingga hal ini yang menjadi salah satu faktor adanya pemecahan masalah oleh masyarakat yang tidak lagi notmatif.

            Pengemis di Indonesia, sering kita lihat di jalan-jalan raya, mereka rela berpanas-panasan hanya sekedar mengemis uang yang sedikit. rasa malu sudah tidak lagi dihiraukan, meskipun terkadang banyak orang yang mencibir dan menghinanya. dari kenyataan tersebut, penulis melihat dari ciri-cirinya, ternyata selain pengemis yang berbaju compang-camping, ada pula pengemis yang berpenampilan rapi, tegap, dan berseragam. siapakah pengemis berseragam itu ?

Bukanlah justifikasi yang salah, bila kita menjawab bahwa pengemis berseragam itu adalah oknum polantas. Dengan cirri-ciri yang sama namun berbeda cara, para oknum polantas elah menunjukan “kepengemisannya” dibalik kewibawaan seragam yang mereka gunakan. Mereka bersembunyi di belakang hokum dengan mengatasnamakan undang-undang sebagai penutup dari ‘aksinya’.
Keadilan telah buta ketika rupiah nampak pada mata yang telah buta pula. Kewajiban menegakan keadilan berubah menjadi menyemarakan kebohongan. Sangat ironis, gaji polantas yang tidak sedikit masih saja membuat mereka tidak puas. Masyarakat yang melanggar peraturan menjadi sasaran pendustaan hokum. Semakin sering mereka melakukan hal itu, semakin mereka mempertegas bahwa mereka hanyalah aparat ‘penjilat’, bukan aparat pelindung masyarakat.
Tidakka mereka berfikir tentang kemajuan bangsa ini? Jawabannya sudah jelas, bahwa dengan apa yang mereka lakukan, itu menunjukan tak ada sedikitpun mereka berfikir ke arah kemajuan.
Problematika mengenai KKN memang seolah mustahil untuk dibasmi di negeri yang masih banyak kalangan yang menganggap korupsi, kolusi dan nepotisme adalah suatu hal yang biasa. Seperti halnya yang dilakukan oleh para oknum polisi tersebut, mereka menjadi pengemis yang ‘gagah’ dengan kewenangan dan kekuasaanya. Dengan realita diatas, bisa kita simpulkan bahwa justru mereka sendiri sebagai para pengadil yang mesti diadili. Dan dengan adanya masalah tersebut, secara tidak langsung mereka telah menyebarkan ‘budaya’ KKN pada masyarakat, sehingga KKN akan benar-benar menjadi “seni budaya ” pendustaan hokum di Indonesia.  

Keadilan Teradil

Oleh : Hilman Indrawan 
Sebuah bukti keadilan Allah Swt dari Surat 99 Al-zalzalah: 7-8, bahwa perbuatan apapun yang dilakukan manusia, baik keburukan yang sedikit, atau kebaikan yang sedikit, keduanya itu mempunyai konsekuensi hukum. Sehingga manusia akan senantiasa memperhatikan apa yang akan ia perbuat dengan konsekuensi yang akan ia terima. Kemudian petunjuk bagi manusia untuk tidak meremehkan dosa kecil. Asbabun nuzul dari ayat tersebut merupakan bantahan dari anggapan sebagian kaum muslim, yang beranggapan bahwa dosa kecil, seperti berbohong, mengumpat, dan lain sebagainya, tidak akan mendapat siksa. Dan inilah konsep keadilan yang menunjukan bahwa orang yang melakukan perbuatan dosa kecil dan besar adalah sama-sama akan mendapat ancaman neraka. Namun tingkatan dosanya lah yang akan membedakan timbangan hisab oleh Allah Swt.
            Demikian juga hal diatas dikuatkan dalam hadist seperti dibawah ini;Dari Anas r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah) dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan (iman)." (HR Bukhari 44 dan Muslim 193)
            Hadist ini telah mengatakan bahwa manusia nantinya akan dikeluarkan dari neraka setelah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan juga karena didalam hatinya telah ada seberat biji kebaikan (amal dan iman) ketika masa hidupnya di dunia.
            Dalam ayat lain pula, Allah berfirman yang bermaksud: "Dan Kami akan mengadakan timbangan yang adil pada hari kiamat. Oleh itu, maka tidak ada seseorang yang akan teraniaya barang sedikit pun, walau amalannya seberat biji sawi, Kami tetap menghitungnya, dan cukuplah Kami menjadi penghitung". (Surah Al-Anbiya' ayat 47).
Maka dengan keterangan tersebut, telah kita ketahui bahwa kaitan asbabun nuzul terhadap ayat tersebut memiliki korelasi yang mengandung faedah bagi manusia mengenai keadilan Allah Swt.